Header Ads Widget

Silaturrahmi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Liputan - kabarbolo, Pemakzulan KH. Yahya Cholil Staquf dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) menimbulkan gejolak yang luar biasa di masyarakat. Para masyayikh dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) didatangi banyak orang seraya bertanya, apa yang terjadi dengan NU? Sebab, bersamaan dengan pemakzulan tersebut, terdapat berbagai informasi yang menunjukkan bahwa orang-orang di internal PBNU sedang mengalami perseteruan, kerenggangan, dan pengelompokan yang saling tidak percaya. Hal yang paling dikhawatirkan adalah jika masalah tersebut membuat mereka bahkan NU itu sendiri menjadi terpecah, na’udzu billah.

Guna merespons hal di atas, Pesantren Tebuireng dengan sepenuh hati membuka diri untuk mencari titik temu yang dapat merangkul kembali semua pihak agar kembali bersatu. Oleh karenanya, ketika para masyayikh NU meminta Pesantren Tebuireng untuk menjadi tuan rumah acara Silaturrahmi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang bertujuan untuk menemukan solusi atas masalah itu, dengan senang hati pintu dibuka. Benarlah, pada hari Sabtu 6 Desember 2025, dilakukan silaturrahmi tersebut.

Di dalam Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng, yang tidak lain adalah ndalem muassis NU, yakni Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, para masyayikh NU berkumpul, menyimak perselisihan yang terjadi antara Syuriyah dan Tanfidziyah secara langsung. Pengurus Syuriyah menjelaskan berbagai masalah yang menjadi latar belakang dan dasar keputusan mereka untuk mengeluarkan pernyataan pemakzulan Ketua Umum (Tanfidziyah). Disusul dengan Tanfidziyah yang di sesi selanjutnya menceritakan kronologi dan argumentasi bahwa pemakzulan tersebut tidak bisa dibenarkan. Setiap pernyataan dan persaksian disimak dengan seksama oleh para masyayikh di tempat yang sakral itu.

Para masyayikh NU, sebagai orang-orang yang mengedepankan pentingnya mempertahankan persatuan di internal NU, memberikan dawuh-dawuh untuk dua pihak yang berselisih. Pada Syuriyah, mereka menekankan kehati-hatian dalam pengambilan keputusan penting. Sebagaimana yang didawuhkan oleh KH. Ma’ruf Amin dan KH. Umar Wahid, bahwa NU bukan hanya milik pengurus NU saja, melainkan milik semua masyarakat. Keputusan penting seperti pemakzulan Ketua Umum PBNU ini perlu dimusyawarahkan dengan para masyayikh dan sesepuh NU. Selain itu, secara aturan kelembagaan keputusan itu juga harus benar-benar dipastikan keabsahannya. Dalam kasus pemakzulan Ketua Umum PBNU ini, menurut para masyayikh ternyata keabsahannya perlu dikaji ulang.

Di sisi lain, kepada jajaran Tanfidziyah, para masyayikh NU mengemukakan berbagai nasihat dan kritik. Sebagaimana yang didawuhkan oleh KH. Said Aqil Siradj bahwa Tanfidziyah juga perlu mengevaluasi diri. Hal-hal seperti sifat eksklusif, kurang turun ke bawah, hingga keputusan mengelola tambang beserta rangkap jabatannya perlu benar-benar dievaluasi. Nasihat untuk mempertimbangkan kebaikan dan kepentingan umum NU dalam jangka panjang juga menjadi penekanan para masyayikh, sebagaimana disampaikan oleh Ibu Nyai Shinta Nuriyah.

Pandangan Pesantren Tebuireng

Sebagai tuan rumah, Pesantren Tebuireng dengan mengharap pertolongan Allah benar-benar ingin menyelesaikan perselisihan yang terjadi di internal PBNU. Jikalau tidak dapat langsung diselesaikan, maka setidaknya ada titik temu yang mulai tampak, baik rumusan pemikiran, sikap, maupun ‘rasa’ yang seringkali melampaui logika. Alasannya sudah jelas, NU adalah warisan perjuangan yang sangat berharga dari pendiri Pesantren Tebuireng beserta para kiai yang luar biasa mulia. Alih-alih mengembangkannya, kita bahkan tidak akan bisa disebut merawat atau meneruskan warisan berharga itu jika mengalami perselisihan sebagaimana yang terjadi saat ini.

Sedih dan malu dalam penuh cinta adalah hal yang dirasakan Pesantren Tebuireng saat PBNU mengalami perselisihan ini. Betapa tidak, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari telah berjuang sedemikian berat untuk menyatukan umat Islam. Ajakan dan seruan untuk bersatu dan menjaga tali persaudaraan tersebar begitu banyak dalam karya-karya beliau. Bahkan, beliau juga menuliskan rumusan untuk menjernihkan hati melalui adab, yang tidak lain adalah landasan utama untuk membentuk manusia yang mulia, yang mau bersatu, yang tidak dilahap oleh hawa nafsu.

“Wahai para ulama, ketika kalian melihat seseorang yang mengamalkan suatu amalan berdasarkan qaul para imam mazhab mu’tabarah yang boleh diikuti, meski lemah, lalu kalian tidak setuju dengan orang itu, maka janganlah berlaku kasar, ajaklah dengan lembut, dan jika mereka tidak mengikuti kalian, maka jangan memusuhi mereka. Jika memusuhi, maka kalian seperti orang yang membangun istana, tetapi merobohkan kota.”

Ungkapan di atas berasal dari Al-Mawaidz karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Ungkapan itu menunjukkan betapa buruk permusuhan yang terjadi di antara para ulama. Berdasarkan ungkapan itu, Pesantren Tebuireng akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi penengah dan wadah bagi segenap pihak yang tidak ingin “merobohkan kota karena membangun istana”. Bersama para masyayikh NU, Pesantren Tebuireng telah, sedang, dan akan terus menjaga Nahdlatul Ulama. (*)